Showing posts with label happiness. Show all posts
Showing posts with label happiness. Show all posts

Thursday, 27 February 2020

Bangkok, Travel, Shopping, and Pokemon I'm In Love


I texted my travel mate a few weeks before the day we travel, I said “I’m going to looking for Pokemon there, but please remind me if I’m too much with my phone” and she said, she will.

So, selain untuk melepas rindu dengan Bangkok, gue memang berniat untuk mencari Pokemon di sana. And very-very surprised me, there’s a lot of Pokestop and Poke Gym there, also I found soooo many strong Pokemon there. OMG! I was so excited being there. And actually I don’t want to go home. LOL!



Unfortunately piknik kali ini tidak berjalan mulus-mulus amat. Firstly, because the epidemic Corona virus, yang menyebabkan kami dari jauh-jauh hari mempersiapkan sedemikian rupa printilan berupa masker, hand sanitizer, vitamin dll, dan gue yang terserang flu tepat 2 minggu sebelum berangkat yang menyebabkan gue panik dan meminum berbagai macam obat flu, vitamin C dan ciri-ciri orang pintar alias tolak angin.




Coworkers gue pada bilang, “lu kalo sakit gini mending ngga usah pergi deh, kalo lagi sakit kan antibody nya lemah, dari pada lu balik bawa virus” yang gue bales “ngga kok, besok juga aku sembuh, aku kalo mau piknik pasti sehat” I’m being polite, coz the one who talked is older than me. Ya gila aja kan udah gue rencanakan liburan ini dari jauh-jauh hari, udah booking hotel segala macem, mana flight ticket non-refundable karena dapet tiket promo. Teteuuup promo adalah koentji wkwkwk.

Alhamdulillah, 2 hari sebelum flight gue sembuh dari flu, cuman masih agak-agak batuk kecil, tapi suhu badan gue normal dan udah ngga bersin-bersin lagi. Dan Alhamdulillah juga gue lolos thermal scanner sampe gue balik ke Indonesia lagi.

Gue flight pukul 05.25 WIB, yang seperti biasa menyebabkan kegalauan apakah gue sebaiknya tidur di Bandara saja, atau kah gue pergi ke bandara pukul 03.00 dini hari tapi di kosan ngga usah tidur dulu ataukah gue tidur dari abis Magrib trus bangun jam 2 an buat sholat Isha trus langsung mandi dan berangkat ke bandara, kaya gitu aja tuh galaunya bukan main. Akhirnya option no 3 adalah pilihan terakhir gue. Karena setiap mau pergi gue tidurnya ngga nyenyak juga, jadi pukul 01.00 dini hari gue terbangun, trus cek-cek sosmed, dan kemudian mandi, sholat Isha dan pergi menggunakan taksi yang memang sudah gue pesan pada sore harinya.

Ke-3 teman gue yang lain flight dari Bandung pukul 10.00 WIB, ketemu di Changi dan flight bareng dari Changi menuju Suvarnabhumi. Gue udah sampai Changi pun, temen-temen gue ini masih pada OTW Husein Sastranegara.

Di Changi terminal 3, gue menggunakan skytrain ke terminal 2, karena temen-temen gue nyampenya di terminal 2, dan flight ke bangkok juga dari terminal 2. Karena gue ngga beli sim card Singapore, gue hanya mengandalkan wifi airport, untuk keep in touch sama temen-temen gue dan nyari Pokemon. Di Changi banyak banget Pokestop guys! Di Soekarno-hatta juga sebenernya banyak sih, tapi dibandingin Changi, masih lebih banyak Changi.

Di Changi, selagi gue mencari Pokemon, gue juga mengunjungi sunflower garden yang terletak di lantai paling atas, kemudian menyempatkan diri untuk mampir ke mini theater biar bisa rebahan, dan sholat agar senantiasa kita selalu berada di bawah lindungan-Nya. Aamiin Ya robbal alamiin.





Ketika gue hendak menunaikan ibadah sholat Dhuhur dan ashar di waktu dhuhur. Kira-kira pukul 01.15 PM waktu Singapore, gue selesai wudhu langsung PD aja gitu gelar-gelar sejadah dan langsung sholat, ketika selesai sholat dhuhur, pundak gue ditepuk-tepuk oleh seorang ibu-ibu yang dari tadi duduk di sebelah gue, sepertinya dari Malaysia, atau maybe orang Singapore nya, karena menggunalan bahasa melayu.

Beliau bilang “belum dhuhur”. Gue kaget, lah tadi gue solat apa dong? wkwkw
Gue jawab “oh belum bu? Yah gimana dong, yaudah deh solat lagi aja kali yah? Hehe”
Ibu-ibu tadi bales lagi dengan bahasa melayunya, “itu sebelah lagi dengerin radio, biar tau kapan adzannya” selang 5 menit, adzan pun berkumandang, akhirnya waktu itu gue sholat 12 rakaat J. Selalu aja ada hal-hal absurd yang gue lakukan. Tidak apa-apa, namanya juga pengalaman ya hehe.

Ketika sedang solat, gue mendengar suara-suara yang amat sangat gue kenal, YES! My friends from Bandung already landed safely in Changi. Gue seneng banget sih pas denger suara mereka tuh, padahal gue lagi solat hehe.

Sebelum gue sholat, gue menyempatkan diri untuk mampir ke seven eleven yang ada di lantai 2, untuk nyari kopi, berbekal sisa duit SGD yang tinggal 10 dollar, gue beli kopi nescafe kaleng seharga 2.59 SGD, dan yupi bear seharga 2.15 SGD. Pas gue keluar dari seven eleven, sambil buang si struk belanjaan, kek otomatis aja gitu mulut gue ngomong “duh kopi 25rebu” wkwkwk.

Kopi nescafe 25 ribu itu gue minum setelah gue solat, which means sudah dengan teman-teman gue, dan cees gue dan gue ini emang kebanyakan gaya, mau so-soan videoin satu sama lain gitu, jadi kopi gue titipkan ke teh nida. Belum kelar upload insta story, kopi itu udah dia balikin ke gue dan gue jepit di antara paha gue, eh tumpah dia, mana gue pake celana kuning muda, udahlah itu celana gue kaya abis kena ompol. Kzl. Suka ada-ada aja gitu kelakuan.



Pergi ke Thailand kali ini, gue, kami ngga begitu antusias mengunjungi tempat wisata sih, meskipun ke Bangkok gue hanya pernah ke Wat Pho dan Wat Arun, gue ngga excited pengen menjelajah ke Wat-wat yang lain, yang penting shopping tetep jalan wkwkwk.

Hari pertama kami sampai di bangkok, kami tidak ke mana-mana, sampai di hotel lalu kami membersihkan diri dari dosa dan debu, kemudian tidur, entahlah berasa cape aja gitu badan, dan lagi kalo udah nempel kasur kan, sobat rebahan mana mau bangun lagi?

Hari keduanya, Jumat 21 Februari 2020 kami ikut tour 1 hari dari klook, kita dari hotel daerah pratunam, naik BTS sampai dengan victory monument untuk kemudian berkumpul dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia, yang akan ikut klook travel juga. Kami berangkat dari victory monument pukul 8.30, sekitar 20 menit perjalanan kami berhenti di rest area dan dilanjutkan ke Floating market yang menempuh kurang lebih 1.5 jam perjalanan.







Kami mengunjungi Floating market, Wat Bang Kung, Maeklong Train Market, dan Amphawa floating night Market untuk melihat firefly, alias kumbang, si Ko Choeng Myungnya Jang Manwol sajangnim.

Di Floating market kami diberi kesempatan 45 menit muterin pasar dengan boat, and honestly i can’t enjoy it. Ngga tau sih gue parno aja gitu, kalo udah main di air wkwkwk. Di sana kami ngga beli barang apa-apa, cuman beli makanan doang, karena kata tour guidenya juga di sini tuh agak pricey dibandingkan dengan 2 pasar setelahnya. Jadi di sini kami hanya membeli makanan saja. Teh Nida membeli mango sticky rice seharga 100 bath, Inas membeli udang goreng 4 biji seharga 200 bath, gue, Inas dan teh Ika membeli coconut ice cream seharga 50 bath, dan teh Ika membeli coconut water seharga 40 bath.

Sambil menikmati makanan yang kami beli, gue nyeletuk “sebenernya aku tuh deg-degan guys tadi. Pokoknya semenjak yang di belitung tuh aku merasa bahwa aku ngga cocok di air hahaha” kemudian dibales oleh teh Ika “kalo aku justru setelah dari Belitung, merasa sangat cocok main di air” yang kemudian dilanjutkan dengan membahas lu lahir hari apa dan lu sebenernya cocok di mana. Wkwkwk.

Pukul 12.45 rombongan tour meneruskan perjalanan ke Wat Bang Kung, untuk melihat patung Budha yang menjadi bagian dari sejarah mereka. Dan katanya kalo kita meminta sesuatu, suatu saat bisa saja dikabulkan, but who knows? Tentu saja kami tidak ikut berdo’a. Kami kan berdo’anya di musholah.

Di Wat Bang Kung kita ngga lama sih, tapi gue sempet buka Pokemon Go dan menangkap beberapa pokeon, gue juga sempet masukin salah satu pokemon gue ke gym yang ada di situ. Tapi karena emang kayanya masih buanyak banget yang main pokemon di Thailand, ngga berapa lama pokemon gue udah balik lagi dengan keadaan pingsan. Poor him!








Setelah mengenal sedikit sejarah tentang Wat Bang Kung, kami melanjutkan kembali perjalanan ke Maeklong Train Market, yang sering gue liat di instagram, yang kalo keretanya lewat, pasar-pasar di pinggir relnya langsung gercep ngeberesin dagangan mereka. It was amazing!! Dan salah satu bucket list gue akhirnya terpenuhi.

Di situ kami membeli minuman, i mean coffee karena kami butuh caffein wkwkwk. Dan gue juga membeli freeze durian dan mango. Di sini harga makanan-makanannya lebih murah dibandingkan di pratunam ataupun chatuchak ataupun Big C. So if you’ll going to Maeklong train market and wanna buy something called oleh-oleh, you better buy it there.

Selepas melihat kereta lewat untuk memvideo dan memotretnya, perjalanan dilanjutkan ke tempat terakhir, yaitu Amphawa floating night market, lagi-lagi untuk shopping, dan ketika matahari hendak terbenam kami naik boat lagi untuk melihat si kumbang itu. Dan pas kaya di tengah-tengah sungainya gitu, ada buaya kecil masa lagi tiduran di ranting pohon, kan serem banget yak?

Setelah puas melihat kumbang, kami pun pulang ke hotel dengan menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam lewat tol. Pulang dari travel ini, karena masih pukul 21.00 an, kami pun keluar untuk mengunjungi Big C, mencari oleh-oleh. Setelahnya kami kembali ke hotel dan istirahat.

Hari-hari berikutnya kami habiskan untuk shopping, cuci mata, makan, shopping lagi, cuci mata lagi, makan lagi dan tentunya gue kembali ke tujuan utama yaitu mencari pokemon, oh yeah i found a new friend there, kami membicarakan pokemon dengan penuh semangat sementara ke tiga teman gue cekikikan aja di bangku belakang.

Dan ketika gue ke Siam Paragon, yang nyambung menyambung menjadi satu dengan Siam center dan siam discovery, i found dozen Pokestop and Pokemon gym. I was really really excited. Kaya ngga mau pulang ke hotel gitu gue wkwkwk.

Itulah Bangkok. Menyenangkan, menguras uang, dan bikin rindu. Till see you again Bangkok. Thanks for having us!




Friday, 7 December 2018

Hey! It’s December!



Hey! It’s December already! Ngga kerasa yah 2018 udah di penghujung tahun, padahal perasaan baru juga kemaren tahun baruan, eh sekarang udah Desember lagi aja. Ngomong-ngomong 2018 udah mau habis, gimana nih resolusi kalian? Apakah sudah semua terpenuhi?

Kalo resolusi tahun 2018 gue sebenernya ngga muluk-muluk, cuman mau dilancarin masalah kerjaan, fangirling, kuliah, dan percintaan wkwkwk. Kerjaan walaupun masih sering masuk telat Alhamdulillah masih lancar, kuliah ngga lancar-lancar banget sih tapi Alhamdulillah masih kuat, fangirling di tahun 2018 ini kadarnya mulai berkurang, dan ya  Alhamdulillah juga jadinya ngga sering-sering baper karena jadi kpoper qismin yang ngga maampu nonton konser wkwkw, percintaan? Waduh kalo itu sepertinya masih belum menemukan titik terang. Dan gue juga ngga tahu ini masalahnya ada di mana? Wkwkwk.

Tentunya sepanjang tahun 2018 ini ada banyak kejadian yang bisa bikin gue belajar, tahun ini juga gue genap seperempat abad, which is gue sudah tyda muda lagi hiks. Dan gue berasa kena quarter life crisis. Kenapa? Gue juga ngga tau, beberapa bulan setelah gue ulang tahun yang ke-25, hidup gue berasa abu-abu. Kaya ngga bisa ngerasain happy yang bener-bener happy, sedih tapi ngga bisa nangis. A bit died inside gitu. Padahal ngga ada yang banyak berubah di hidup gue, tapi tiba-tiba aja gue merasa begitu. Weird I know. Tapi Alhamdulillah I’m okay now. 

Walaupun ditahun ini gue belum merasakan jatuh cinta (eciyeee) yang bener-bener jatuh cinta sajatuh-jatuhnya (??), tapi tahun 2018 membuat gue merasakan patah hati wkwkwk. Patah hati karena Instagram crush update video bersama cewek lah, patah hati karena atm isinya 0 terus tiap bulan lah (sad amat yak) dan patah hati karena tiba-tiba yang biasanya hampir tiap malam nelepon gue, hilang begitu saja. Eh tapi sekarang balik lagi ☹. Anyway ketika yang neleponin gue hampir tiap malem itu ngilang, gue curhat kan sama cees, bilang bahwasanya gue ini udah buang-buang waktu, bahwasanya kenapa gue dulu bodoh banget mau-mau aja ditelepon sampe tengah malem kalo akhirnya dia akan pergi. Cees gue jawabnya bijak banget, sampe gue terharu punya cees macam dia HAHAHA. Cees gue bilang yang intinya begini ‘di dunia ini ngga ada yang sia-sia, walaupun sekarang dia pergi seenggaknya pasti ada hikmah yang bisa lu ambil’. Well said es, well said. LOL.

Meskipun tahun ini bukan tahun gue banget (?), seenggaknya di tahun ini gue udah mulai belajar memaafkan diri sendiri, menerima diri sendiri dan mencintai diri sendiri. Ngga apa-apa belum mencintai dan dicintai orang lain, yang penting udah mencintai diri sendiri. Self love bukan berarti selfish kok.


Selain itu, gue juga udah mulai menyadari bahwa, I’m too addicted to Instagram. Awalnya gue ini selalu menyangkal kalo ngomongin medsos iti memberi dampak buruk bagi penikmatnya, Karena instagram gue isinya bagus-bagus semua, baik foto-fotonya, caption-captionnya, dan kontennya pun asik-asik. Jadi gue masih asik scrolling feed instagram sampe bawah dan swipe ke kiri igs sampe mentok, meanwhile orang-orang udah mulai banyak mengurangi penggunaan instagram. Sampai akhirnya gue berada dititik sadar, bahwa gue kalo apa-apa kok ya harus update instastory, bengong dikit langsung buka Instagram, kalo abis upload poto langsung cek siapa aja yang ngelike, siapa aja yang liat, siapa aja yang komen. Dan jadinya gue ngga focus. Lagi kuliah buka muluk instagram, lagi kerja juga selalu ada excuse untuk buka Instagram. Jadi dengan keteguhan hati, sejak 29 November kemarin gue uninstall instagram dari si Steve (henpon gue). Gue berniat detox Instagram sampai tahun baru nanti.

Gue masih belum tahu betul sih dampak baik apa yang gue dapet setelah uninstall Instagram ini, tapi gue yakin pasti ada. Nanti akan gue certain kalo gue berhasil melewati detox Instagram ini.

Di tahun ini juga gue akhirnya punya passpor dan naik pesawat. Yay! And I think thats the biggest achievement in 2018 yang udah gue capai. Bias pergi ke Thailand, Singapore dan Malaysia. Siapa sangka anak alay ini bisa jalan-jalan ke luar negeri wkwkwkw. Semoga tahun depan gue bisa punya visa Jepang atau Korea. Aamiiin.








So, resolusi apa aja nih yang masih kalian perjuangkan sebelum 2018 berakhir? And whats your big achievement in 2018?

Friday, 31 August 2018

Tips and Trick Nonton Bioskop Sendirian

“Nonton bioskop sendiri banget? Serius?”  “Emang berani?” “ngga malu gitu?” “ih ngga ada gawe banget nonton bioskop sendiri”
Itulah beberapa pertanyaan yang menghampiri gue saat akhirnya gue berani nonton bioskop sendirian.
First of all, ngga ada yang salah dengan nonton bioskop sendirian. Mungkin bagi cowok sih ini udah hal biasa banget yah, tapi bagi cewek ini mungkin kurang lazim wkwkwk. Am I right or am I right?

Sekitar awal tahun lalu, saat film Galih dan Ratna lagi tayang di bioskop, gue penasaran dengan aktingnya si Refal Hadi (yang jadi Galih) karena di timeline twitter gue, dia rame banget dipuji-puji sama banyak orang. Karena gue ini adalah korban timeline twitter banget anaknya, jadilah penasaran, sebagus apasih acting doi sampe disanjung sebegitunya?

Berhubung waktu itu gue ngga ada temen untuk diajak nonton bareng, dikalahkan oleh rasa penasaran gue pun pergi ke tangcity untuk memberanikan diri menonton Galih dan Ratna. Gue beli tiket kan, pas beli ditanya si mba nya mau berapa tiket, gue jawab 1, trus kaya diliatin gitu sama mba-mba nya, but it’s ok. Aku baik-baik saja meski ditatap intens from head to toe oleh si mba-mba penjual tiket XXI tangcity.

Karena ini pengalaman pertama dan gue juga masih ragu dengan diri gue sendiri (belum bener-bener menerapkan self love), gue pun duduk mojok deket-deket sama orang kan, supaya keliatannya duduk bareng kawanan wkwkwk, nunggu di depan studionya sambil maen henpon. Pas studionya udah dibuka, gue liat ada beberapa orang juga yang nonton sendiri dan pede-pede aja tuh, masa gue ngga bisa kaya gitu juga sih? Akhirnya gue pun masuk, dan termasuk masuk (eh gimana?) paling dulu, maksudnya tuh masuk duluan sebelum bioskop terisi ramai begitu loh.

Sebagai newbie, gue pun memilih duduk di tengah, pokoknya yang tengah banget pas sama layar, jadi pas gue nonton itu yawda membentuk sudutnya 180° aja gitu tanpa miring sedikitpun. Karena film galih dan ratna ini ngga keisi semua satu studio, dan tempat gue duduk pun seinget gue sebelah kanan gue kosong, sebelah kiri sih jangan ditanya yah, iya betul orang pacaran .

Duduk ditengah itu sebenarnya ngga rekomen sih kalo buat nonton sendiri, karena 1, either lu akan merasa terganggu oleh percakapan orang-orang sebelah lu atau bisa jadi akan baper (nah lo?) wkwkwk. Anyway, untuk nonton sendiri sih gue saranin mending cari tempat duduk di pinggir aja, dan agak atas, B-D itu rekomen sih. Tempat favorite gue sendiri biasanya di C 17 atau D 17, itu udah paling PW banget sih kalo buat nonton sendiri.

Ada lagi pengalaman gue saat nonton sendirian yang kedua kalinya, nonton Beauty and The Beast, karena gue milih jamnya mepet-mepet jam balik kerja, akhirnya gue pun mepet juga masuk ke bioskopnya, dan kursi disebelah gue ini sudah terisi, gue sudah mengaplikasikan bahwa nonton sendiri itu jangan di tengah, jadi gue ambil (kalo ngga salah) di D17 atau E17 gitu. Sebelah gue ini betul sekali sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, nah sebelum gue duduk, posisi yang harus nya di sebelah gue itu cowok, at least sampai gue duduk di situ selama 5 menit, eh mereka tukeran tempat duduk dong, naluri jomblo gue agak tersinggung nih, mon maap nih maksudnya apa anda-anda tukeran tempat duduk begini? Mba nya insecure yah? Takut gue gatel-gatel sama masnya apa gimana? Itu yang ada di pikiran gue saat itu wkwkwk. Waktu itu masih jadi jomblo insecure hahaha.

Seiring berjalannya waktu, gue ini menikmati saat-saat nonton sendiri di bioskop. Kaya bener-bener me time aja gitu. I remind you once more, thats nothing wrong with going to cinema alone. Uang buat beli tiketnya uang kamu sendiri, waktu buat nonton juga waktu luang kamu sendiri. So kalo masih ada yang nanya kenapa nonton bioskop sendiri aja? Ya bcoz why not? Jawab aja begitu.

Lets make it clear and lets make it short. Tips pertama yang akan gue bagi di sini agar supaya kalian bisa chill walau nonton bioskop sendirian aja,   yaitu carilah tempat duduk yang di pinggir jalan. Jangan di tengah-tengah, jangan juga pojok. Kenapa jaangan di tengah-tengah? Karena as i said before, that pasti bakal ada sepasang kekasih di sebelah tempat elu duduk. Dan kenapa jangan di pojok juga? Karena i just uncomfortable with pojokan. A bit scared sama tembok juga hahaha. Kalo deket-deket tembok tuh mendadak berasa sempit gitu dunia , lebay banget yah hahaha.

Yang kedua, kalo lu masuk dan lampu masih nyala terang benderang kemudian orang-orang ngeliatin lu karena lu dateng ke bioskop sendirian, just open your instagram account, or scrolling your twitter, or just eat your popcorn! Don’t look around with nervous eyes. Just stay cool and keep calm. And everythings gonna be fine.

Tips ketiga, if you are a newbie, so you better be there 10 minutes before the cinema starting. Untuk menghindari mata-mata mengintimidasi dari penonton yang datang ke bioskop bersama pasangannya. You are awesome to go to the ciname alone girl! Karena to be honest masih banyak temen-temen gue yang kalo mau nonton bioskop harus nyari temen dulu.

Tips keempat, mending beli tiket online. Jadi ngga perlu dapet tatapan intimidasi dari mba-mba tiketing juga. Dan lebih leluasa memilih tempat duduk tanpa harus ditungguin sama antrian berikutnya.

Tips yang terakhir, sebisa mungkin bawa jaket, karena di bioskop kan lama-lama bisa dingin banget, dan karena lu dateng sendiri ngga akan ada yang ngangetin (?) So you better prepare. Haha

Demikian sedikit tips n trick nonton versi gue berdasarkan pengalaman, semoga bisa menginspirasi kalian untuk nyobain nonton sendiri. Bcoz trust me, its really fun!

So, have a good try! 

Tuesday, 24 July 2018

Another curhat colongan chapter "Life Is Hard"


“Kapan nikah?”
“Udah ada pacar?”
 “Jadi sekarang pacarnya orang mana?”
“Makanya jangan nyari yang kaya artis korea muluk, ngga akan ketemu”
and i'm always smile when i heard those questions. :)

First of all, I’m sick with those questions. Kadang nih yah gue berpikir, surrounded with those kind of people bikin gue risih dan merasa gue ini ngga cocok hidup di lingkungan mereka. Atau gue yang terlalu baperan untuk hidup di sekitar mereka? Like seriously, emang gue ngga punya tujuan hidup lain apa selain menjalin rumah tangga? emang gue keliatan mupeng banget merit gitu? I mean, gue masih pengen jalan-jalan tanpa harus mikirin ‘ngga enak sama mertua’ atau ‘nanti anak gue siapa yang jagain’. Dan yang paling penting dari yang terpenting, gue masih bisa bahagia walaupun gue belum ada pacar atau pun suami. Karena seperti paham yang selalu gue anut bahwa kebahagiaan itu jangan dititipkan sama orang lain, bahagia itu harus dari diri sendiri.

Awal tahun 2018 ini sebenernya gue merasa berat hidup sebagai seorang jomblo di Indonesia(?) wkwk atau mungkin cuman di wilayah gue tinggal doang, atau lagi-lagi apa guenya yang terlalu baper? im not sure. Kaya gue mau nonton romantic movie sendirian aja tuh too much hesitate gitu, takut diliatin dengan pandangan yang gimana gitu sama orang lah, takut dikira jones lah, takut dikira ngga punya pacar lah, lah emang iya deng kalo itu hahaha. But anyway, im really really uncomfortable with that. I mean, gue tahu, itu sih gimana gue nanggepinnya yah, cuman dari mendekati gue ulang taun  yang ke seperempat abad ini tuh gue yang lagi mudah baper gitu, apa-apa kepikiran, apa-apa takut dijudge. Udah masuk seperempat abad kali yah gue jadi kena sindrom hiks.

To be honest, pulang dari jalan-jalan kemaren gue bener-bener lupa kalo gue sempet baper gegara jomblo. Seriously di luar sana masih banyak hal-hal yang amat sangat menyenangkan dibanding gue terus-terusan merana meratapi kejombloan yang tak kunjung usai ini wkwk. Bukannya mikirin bentar lagi 25 trus gue kudu cepet-cepet kawin, gue lebih mikirin gimana gue bisa punya tabungan banyak supaya gue bisa sering jalan-jalan dan hidup gue akan sangat menyenangkan. Trus energi-energi negative juga yang kaya takut dijudge, mudah baper yang gitu-gitu tuh kaya udah mulai berkurang, dan lebih focus ke memperbaiki diri. Lebih baik kan? Dari pada kepikiran masalah lebih baik kita mikirin solusinya bukan?

But then suddenly some questions pop up on my head, what if gue belum bisa nikah sampe gue umur 30 tahun? What if kalo jodoh gue dan gue sama-sama ngga bergerak makanya kami belum bisa bersatu (apaan sih? geli deh wkwkwk), what if jodoh gue masih dijagain sama orang? What if jodoh gue berada di bagian bumi yang lain? Dan what if - what if yang lain.

Beberapa minggu yang lalu gue baca artikel tentang sepasang anak SMP yang pergi ke KUA minta dinikahkan, setelah ditanya alasannya kenapa, si cewek bilang dia ngga mau tidur sendirian. Sesimpel itu yah adek adek alasan kalian menikah? Sirik deh kakak jadinya wkwk. Sementara membayangkan tentang pernikahan, yang ada di benak gue saat ini adalah, gimana hidup gue setelah menikah? Akan tinggal di mana gue nanti? Apakah gue masih akan bekerja seperti sekarang? Gimana kalo gue punya anak? Apa gue udah siap? Nanti anak gue dititip ke siapa kalo gue kerja? Dan masih banyak gimana-gimana yang lain yang belum bisa gue bayangkan. Bahkan gue belum bisa membayangkan akan menjadi istri seperti apa gue kelak? LOL!

Gue ini kuliah juga baru mulai, gue merasa belum cukup pinter untuk mewariskan otak gue ke calon anak-anak gue, gue juga masih cukup egois untuk mikirin orang lain, makanya gue masih memantaskan diri untuk calon suami dan anak-anak gue nanti (bahasanya yaaa geliiii hahahahaha). Well, menikah itu pilihan, bukan suatu keharusan. Gue mau nikah di umur berapa pun itu pilihan gue, bukan semata-mata gue panic gegara ngeliat temen-temen gue pada nikah meanwhile gue ngga laku-laku, yaelah sad amat nasib gue yak. Wkwk.

The second of all, gue mau nyambungin curhatan gue dengan postingan blog kak ron beberapa bulan lalu, yang dia bilang “life kinda hard these day, kenapa ya?” bcoz im feel the same way. Entah karena semakin bertambah umur juga jadi semakin banyak yang dipikirin, entah gegara apa juga gue sendiri kadang-kadang ngga paham. Again. Quarter life crisis.

Belum lagi gue ini anaknya kadang suka berharap lebih, terus kalo yang gue dapatkan ngga sesuai dengan apa yang udah gue harapkan, gue suka down gitu untuk beberapa saat. Seperti beberapa bulan yang lalu yang udah gue curhatkan di Instagram gue,  seperti saat gue jalan sama doi, yang ternyata ngga lanjut ke step(?) berikutnya, atau seperti saat gue dan dia lunch bareng yang ternyata lunch bareng itu tidak berarti apa-apa buat dia meanwhile perut gue geli sama kupu-kupu, atau saat gue merasa sedang quality time sama dia padahal dia ngerasanya cuman main doang. Dan itu sebenernya bukan salah doi, dia dan dia. Itu semua salah gue, salah gue yang ngarep duluan, salah gue yang terlalu menaruh harapan lebih bahwa doi, dia dan dia memiliki perasaan yang sama dengan gue padahal ngga. Poor you roh! Wkwkwk. Anyway I’m fine now.

Dari situ gue belajar lagi, gimana caranya supaya gue ini ngga ngarep-ngarep banget anaknya, ngarep boleh asal manusiawi wkwkwk. Sebenernya dari instagram-instagram yang gue follow, mostly gengnya @amrazing (Alexander Thian) gue belajar tentang self acceptance, self love, dan how to manage the reaction, karena gue ngga bisa ngontrol how I feel atau mengontrol emosi, jadi katanya control lah how you react. Begitu.

Beberapa waktu lalau gue juga ditegur cees gue, yang katanya gue ini egois, yang katanya  gue ini jahat kalo berkata-kata, jadi gue ini kadang berkata apa adanya tanpa mau tau bagaimana perasaan orang yang udah gue katain itu. And yeah. I admit it. Trus I’m feel guilty gitu, karena telah menjadi orang yang ngga sepeka itu. Ngomong jujur boleh, bagus malah, tapi kan mestinya gue lebih bisa milih kata-kata yang pantas dan tentunya ngga nyakitin perasaan orang, yekan? Dan satu lagi, mungkin gue harus belajar lebih banyak lagi kosakata supaya gue bisa mengungkapkan kejujuran tanpa harus menyakiti walaupun kejujuran itu pahit (halah! Wkwk ).

Pokoknya lagi focus dulu ke memperbaiki diri sendiri, focus membahagiakan diri sendiri, focus ke kuliah, masih belajar mencintai kerjaan, jadi kalo gue udah yang yakin bener-bener siap untuk gue mencari pendamping hidup (ciyee), then I will. So instead you guys judge me with your beautiful words, can you just support me as I am now? Karena jujur kadang di balik ‘aku sih ngga peduli sama omongan mereka’ kadang pas lagi sendirian di kosan tetiba aja omongan-omongan itu terlintas, dan ya gue jadi kepikiran! gimana sih?! Trus jadi kesel sendiri, jadi labil sendiri, emosi jadi meledak-ledak (ini sih lebay) wkwkwk.

Anyway, sekian dulu deh curhatan gue. Kapan-kapan gue sambung lagi. I love you guys yang menyempatkan diri membaca curhatan gue ini, and don’t forget to spread happiness J. XOXO

Friday, 20 April 2018

Goes To Bangkok ”Nuris Ala-ala”



Kalian kalo mau bepergian atau sebut aja traveling, pada suka bikin itinerary ngga sih? Atau random aja gitu gimana nanti pas di sana maunya kemana? Kalo gue pribadi sih biasanya random, cuman berhubung ini adalah pengalaman pertama ke luar negeri (ciyee sombong), gue kan ngga mau yah sia-sia gitu aja dan pada akhirnya nyasar-nyasar ngga jelas di negeri orang.

Untungnya pergi kali ini seperti yang gue bilang di postingan Goes to Bangkok yang pertama, gue pergi dengan yang sudah sering ke Bangkok, jadi ya sudah dibikinin juga itinerarynya. Itinerary yang telah dibuat oleh teh Nida 2 minggu sebelum kami pergi ke Bangkok, kurang dan lebihnya memang terlaksana, kecuali pergi ke terminal 21. Entah apa alasan kami waktu itu sehingga kami ngga jadi pergi kesitu.





Anyway, selama di sana, ada beberapa barang yang emang harus selalu kami bawa selama kami meninggalkan hostel.

1.   Passport, tentunya ngga boleh ketinggalan. Dari pada nanti dianggap turis illegal kan? waktu teh Nida bilang passport jangan lupa dibawa kemana-mana, gue dengan polos atau entah bego nanya, “teh kita harus bawa KTP juga ngga?” ya ngana piker rooooh! Mereka ngerti Bahasa di KTP lu  gitu? Zzzz. Teh Nida jawab “ngga lah, ktp kamu tuh ngga berlaku di sini, yang berlaku tuh passport, makanya dibawa ati-ati jangan sampe ilang.”
2.   Bon Cabe, kenapa bon cabe ini masuk ke barang-barang yang musti dibawa? Karena oh karena lidah kita kan belum tentu menyukai makanan sana, but don’t worry! bon cabe will help. Padahal di sana hampir di setiap tempat makan menyediakan bubuk cabe, potongan cabe, garam dan potongan bawang atau entah sambal. Jadi ya si bon cabe ini ngga berguna-berguna banget. Sorry not sorry.
3.   Tongsis, buat gue yang emang hobi banget poto-poto. Benda ini wajib dibawa.
4.   Power bank, ini penting, karena kalo batere henpon dead you’ll get bored. Lol. Itu sih gue deng hahaha.
5.   Payung, karena di Thailand panasnya hampir sama kaya di Tangerang, sekitar 33-34oC.
6.   Kipas, ya karena panas pasti akan timbul keringat bukan? Untuk mengatasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti bau badan, kelek basah dan dijauhin bule-bule (nah lo?) maka bawalah kipas tangan.
7.   Alat make up seperlunya, terutama lippen. Ya biar oke aja guys foto-fotonya. Ya kali mukanya kusem.

Hari kedua di Bangkok, kami dijadwalkan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Bangkok, diantaranya Wat Pho, Wat Arun dan Asiatique. Kami selesai siap-siap (mandi dandan dan ngopi) pukul 9, tapi karena kesejahteraan perut ini nomor 1, kami pergi dahulu membeli sarapan di sevel yang deket hostel, Pas hari pertama teh Nida bilang, jangan sekali-kali beli makanan di pinggir jalan, karena kita belum tau halal atau ngga, meskipun itu daging ayam belum tentu halal, kan kita ngga tau katelnya bekas apa. Begitu katanya. Baik. Jadilah kita nyari makanan halal di sevel. Saat gue kesitu, menu makanan siap sajinya tinggal sedikit, jadi agak susah juga nyari yang ada label halalnya, gue beli nasi merah pake ayam dan jamur. Sebenernya sih gue ngga suka-suka banget nasi merah, aneh rasanya, hambar doang gitu kan yak? Tapi karena nasi putih kebanyakan lauknya pork dan yg beef pun ngga ada label halalnya,. Jadi gue ambil menu itu harganya 35 baht. Eon Uwi ngga beli makanan berat, teh Nida cuman beli chicken stick  doang dengan harga 25 baht. Kita ngga makan di sevel, tapi dibawa pulang ke hostel. Di jalan mau ke hostel, kita nemu bapa-bapa yang jualan kacang tanah, kacang bulu dan ubi yang unyu unyu sekali, eon Uwi beli kacang bulu se kepel(?) doang 20 baht. Gue ngga sempet ngefoto, cuman gue instastory in doang waktu itu. Gue ke eon Uwi ‘jauh-jauh ke Bangkok yang dibeli kacang bulu’ trus eon Uwi bilang di Bandung udah jarang katanya.

Gue yang udah underestimate sama rasa nasi merah, langsung numpahin bon cabe, padahal tau ngga boncabe level berapa yang gue bawa? Yup! Level 30. Roh! Ngana sehat? Sebelumnya gue belum pernah nyobain boncabe level 30, palingan yang level 15 juga udah keringetan, lah ini level 30 dan langsung ditumpahin gitu ke nasi merah dan lauknya. Jadi pedes banget gilak! Tapi enak sih, padahal sebenernya ngga pake bon cabe pun enak, lidah kita, I mean lidah gue sebagai orang Indonesia bisa menerima makanan itu dengan baik.

Tepat pukul 10, kita pergi ke stasiun Phaya Thai, jalan kaki. Like I said, itu deket banget sama hostel. Kurang lebih jalan kaki selama  5-7 menitan lah dari hostel. Kita akan naik BTS (Bangkok Train System) untuk pergi ke stasiun Saphan Taksin. Dari Phaya Thai ini melewati 7 stasiun, dengan 1 kali transit. Ya kaya naik KRL aja, kalomau ke tanah abang dari tangerang ya kudu transit dulu di duri kan? BTS pun sama, cuman jalurnya ngga sebanyak krl sih. Phaya thai-saphan taksin dapat dibeli dengan harga tiket 44 bath, dari phaya thai menuju siam dan naik 1 lantai lagi untuk menunggu kereta kea rah saphan taksin.

ini sekali pakai guys kertas gitu, jadi awas lecek nanti nga bisa keluar stasiun wkwk





Untuk pembelian tiketnya sendiri menggunakan self service, kita hanya perlu masukin koin yang sudah tertera di board sesuai dengan harga kita mau ke stasiun mana, dan si tiket akan keluar. Inget yah hanya koin, itu pun ngga semua koin, yang bisa masuk ke mesin tersebut, cuman koin 1, 5 dan 10 baht, yang 2 baht ngga bisa diterima sama si mesin. Kalo ngga punya koin gimana? Tidak usah khawatir, di depan mesin pembelian tiket ada tempat untuk nukerin uang kertas jadi koinnya kok. Terus ngomongnya gimana kalo kita mau nuker? Tenang, kalian ngga usah pake ngomong cuman ngasiin selembaran nanti akan langsung dikasih uang koin sejumlah kita nukerinnya berapa.

di tangga stasiun, mumpung sepi kami beraksi


Di dalem BTS

Sekitar pukul setengah 11 kita sampai di stasiun saphan taksin dan jalan menuju apa yah namanya? Terminal perahu? Well, disitu kita naik perahu untuk ke Wat Pho, tiketnya 40 baht/orang. Dan perahu yang harganya 40 baht itu penuh banget, karena memang transportasi umum untuk local juga dan bukan dikhususkan untuk turis, sebenarnya ada perahu yang dikhususkan untuk turis, namun harganya 150 baht per orang, ngga didempet-dempet dan hanya memuat beberapa orang saja, well, karena kami ini mau nuris ala-ala local jadinya ya kami naik yang perahu 40 baht ini wkwk (bilang aja nuris budget pas-pasan) dan kami harus mau berdesak-desakkan atau bahkan ngga kebagian tempat duduk.




ngelamunin apa neng?



Di sini ada sebuah cerita tentang kegeeran gue yang kadang out of control, jadi pas kami mau ke wat pho ini kebetulan si perahunya belum dateng dan antriannya sudah mengekor, jadilah kita cari antrian yang agak-agak manusiawi, di depan kami ada sekumpulan turis asia maybe Vietnam or somewhere, yang jelas bukan Jepang, Korea dan China, seumuran gue sih kayanya, beberapa cowo dan cewe. Gue sih ngga bermaksud kegeeran yah wkwkwk (meskipun kadang gue geernya diatas rata-rata). Kan baris gitu antriannya trus gue urutan depan seperti biasa, teh Nida di tengah dan eon Uwi di paling belakang. Di depan gue ada turis cowo yang gue bilang tadi, lagi ngobrol sama temennya yang cewe, trus depan yang cewe ada cowok lagi, nah karena gue sibuk dengan si samwell (nama henpon gue) as always, gue ngga merhatiin sekeliling kan, eh tetiba eon Uwi nyeletuk, “Roh, itu yang depan si cewe dari tadi ngeliatin kamu terus” trus gue geer wkwkwk, “masa eon? naksir aku kali hahaha” trus kami ngakak. Gue ngga tau ada yang aneh dengan kostum gue hari itu atau mungkin dengan riasan wajah gue looks a bit odd, hari itu ada beberapa yang ngeliatin gue dengan pandangan yang kurang wajar, well…. Mungkin mereka terpesona dengan penampilanku. LOL!

 
do i look weird?
Begitu perahu datang, kami pun naik, dan karena antirannya seperti yang gue bilang tadi udah panjang banget, jadi kami ngga kebagian tempat duduk, berdiri dibagian belakang. Tidak apa-apa asal keangkut, dari pada harus nunggu lagi. Lumayan lama sih kita di perahu, melewati beberapa pemberhentian juga, lupa ngga gue itung, mungkin sekitar 6 atau 7 pemberhentian dan menempuh waktu sekitar 20 menitan untuk kita sampai ke Wat Pho. Dari si pemberhentian perahu itu, kami jalan lagi sekitar 10 menit untuk bisa mencapai Wat Pho, dan siang itu panas banget. Oke saran dari gue, kalo mau ke Bangkok, mending bawa baju-baju yang tipis dan adem, dan kalo kena keringat ngga menimbulkan bau-bau yang tidak sedap.

Tiket masuk Wat Pho 100 baht/orang, saat kami berkunjung kebetulan lagi ada acara kaya festival gitu sehingga banyak stand-stand dan jadinya rame banget, sama turis dan localnya sendiri. Did I tell you that di Thailand itu bau dupa di mana-mana? Yup! Di mana-mana bau dupa, I mean it’s a bit strange for me, aneh aja sih baunya hehe, dan tempat sembahyang juga ada di mana-mana, kaya kemaren pas di pasar itu tetiba ada kaya sesajen gitu, trus ada lilinnya trus ada makanan dan minumannya, well, se-religius itu orang-orang sana, dan they love their culture so much.



Ok, balik lagi ke Wat Pho, tiket 100 baht itu nantinya bisa ditukerin sama air mineral botol yang kecil, mayan lah buat mengobati dahaga wkwk. Di situ kami muter-muter nyari spot bagus buat poto sih khususnya haha. Dan sempet neduh juga di kaya kuil gitu di dalem Wat Pho, tapi kita ngga masuk, cuman duduk aja gitu di terasnya. Bcoz Bangkok is really really hot, so we need a rest a view minutes. Laper juga, untungnya eon Uwi bawa chiki kentang gitu, jadi kami duduk sambil ngopi-ngopi, trus kami juga sempet teleponan sama teh Ika yang lagi jagain toko di baltos, yup, karena teh Nida nya pergi, eon Det juga lagi sakit mata jadi digantiin dulu sama teh Ika. So kpopers visit their store anyway, di baltos lantai 1, M-01 nama tokonya fanstuffstore samping banget sama escalator naik, dan biasanya paling rame diantara yang lain (rame sama yang jaga nya), and absolutely trusted.





gaya gue klasik banget yak wkwk






Pas keliling-keliling candi gue ketemu dengan beberapa turis yang pake jasa tour guide gitu kan, trus gue tanya teh Nida, karena doi kan sering bawa orang juga “teh, kalo teteh bawa orang kesini teteh ngejelasin sejarahnya ngga sih?” teh Nida jawab “ngga” gue tambahin “suruh browsing aja kali ya teh, lagian ngga semua orang suka sejarah ehehe” naon lah roh! Bagian ini jangan ditiru yah, karena alangkah baiknya kalian mengetahui sejarah dari tempat yang kalian kunjungi. Gue tuh kadang anaknya sepemalas itu zzz.



Di Wat Pho juga kita bisa ngeliat Budha tidur, yang beneran deh itu gede banget, and you know? If we want to take a picture with him in a good angle, we must queue. Jadi kami pun ikut mengantri agar supaya bisa poto dengan angel yang bagus. Oiya di Wat Pho ini ketika akan memasuki sebuah ruangan apalagi tempat yang ada Budhanya, you should take off your shoes or sandals. Untuk yang ruangannya kecil, sandal atau sepatunya cuman disimpen aja di luar, sedangkan untuk ruangan yang gede seperti tempat Budha tidur ini, si sandal atau sepatu dimasukkin ke keresek, kereseknya udah disediain di depan pintu masuk ruangan tersebut.
Dan untuk cewek-cewek yang kebetulan menggunakan pakaian minim, sebelum masuk akan distop oleh penjaga yang ada di pintu masuk dan dikasih semacam jubah gitu, agar pakaiannya lebih sopan ketika bertemu dengan Budha mungkin yah.
Jadi untuk foto dengan Budha tidur itu ada 3 angel yang bagus, dan ke tiga-tiganya harus ngantri. Dan ofcourse kami ikutan ngantri di ketiganya hahaha.






Selesai mengunjungi ruangan Budha tidur, kamipun memutuskan untuk keluar, dan langsung pergi ke Wat Arun. Dari Wat Pho ke Wat Arun, kami harus menyebrangi sungai, dengan bayar 15 baht, kami pun naik perahu lagi untuk nyeberang doang ke Wat Arun. Di perahu pas nyebrang ini kami bertemu dengan bapa-bapa orang Indonesia, trus salah satunya ngomong,
Bapa: “Dari mana dek?”
Eon Uwi: “Indonesia pak”
Trus gue ngakak, atulah eon iyalah kita dari Indonesia, wong si bapa nya aja nanya nya pake Bahasa Indonesia wkwkwk,
Eon Uwi: “eh dari Bandung pak hehe”
Bapa2: “bertiga aja? Kuliah apa kerja? Apa main?”
Kami: “Main pak hehe, bapa? Oh bapa mah ada kerjaan di sini”

Trus kami bertiga manggut-manggut. Oiya di Wat Pho dan Wat ARun ini kami ngga beli makanan apa-apa, karena jarang banget makanan halal. Jadi nanti kalo kalian mau di Wat Arun dan Wat Pho sebaiknya kalian bekel aja. Supaya aman dan terhindar dari kelaparan. Ingat guys, kesejahteraan perut itu nomor 1.



Beda dengan Wat Pho, tiket masuk Wat Arun ini lebih murah, hanya 50 baht saja per orangnya. Bedanya, kalo di Wat Pho cewe-cewe masih bisa pake baju yang agak terbuka kalo lagi ngga di dalam kuil, kalo di Wat Arun ini dari pintu masuk nya sudah disedian jubah atau semacam selendang gitu untuk menutup bagian yang agak terbuka.



backlight :(



Lagi-lagi karena siang itu panas banget jadinya kami cuman naik ke 1 candi, poto-poto bentar dan duduk lagi. Renta banget sih emang, belum apa-apa udah capek hahaha. Pas kami lagi duduk-duduk cantik sambil ngeliatin hasil jepretan, ada seorang bule laki-laki, eumm… kayanya orang America latin gitu yah (sotoy lu roh!) yang jelas dia ngga pake british English, ikutan duduk di samping gue. He looks really frustrated. Kami sih masih asik ngobrol sambil nyemilin chiki yang belum abis dan ngeliatin hasil poto, trus tiba-tiba si mas bule ini bertanya.

Bule: “excuse me, do you know the big place where I can buy phone cell there?”
Gue langsung ngeliatin ke teh Nida, dia menggeleng dan gue bales ke mas-mas bule itu,
Gue: “im sorry, we don’t know, maybe you can ask to local?”
Bule: “I would do that too, but locals here cant speak English well”
Trus dia nutup muka pake tangan, and took a big sigh. Setelah itu kami bilang kami duluan, dan berasumsi (lagi-lagi berasumsi) kalo si bule ini kayanya abis ilang henpon.

Dari Wat Arun, kami naik perahu lagi dengan harga yang sama yaitu 40 baht perorang untuk balik lagi ke sathorn, dan nantinya dari sathorn kami ke Asiatique. Di perjalanan menuju ke sathorn ini ada lagi sebuah cerita, sebelumnya gue akan ngasih tau sistemnya nya kaya apa, jadi si sistemnya tuh begini, beli tiket, trus naik ke perahu, pas perahu udah berlayar baru si tiketnya akan diperiksa sama kondekturnya. Waktu gue naik, kondekturnya ibu-ibu tingginya mungkin sekitar 150 cm, agak kurus rambutnya hitam panjang sepunggung dan diikat satu. Dari bagian depan ibu kondektur ini udah teriak-teriak, entah gue even maybe all turis ngga ngerti dia ngomonga apa. Kalo asumsi gue, dia ngomong mau meriksa tiket, jadi tolong dikasih liat ke dia tiketnya, tapi ngomongnya pake Bahasa Thailand, yang 1 katapun gue ngga tau artinya.

Dan jujur itu bikin gue takut, rasanya kaya dimarahin gegara kita salah naik wkwk. Dan ketika gue ngeliat muka orang-orang pun sama, mereka bingung dan kaya ‘yawda deh bu, lu ngomong apa jug ague ngga ngerti’ gitu. Jadi yawda gue pun diem aja paling kadang ketawa-ketawa dikit soalnya lucu, si ibu kondekturnya udah ngomong pake urat tapi penumpangnya pada ngga ngerti. Sampe pada ke bagian gue yang ditanyain tiket yang kebetulan ke3 tiket gue yang pegang gue grogi, untungnya si tiket gue simpen di pelindung Samwell, jadi langsung lolos. Gimana kalo kita belum sempet beli tiket tapi keburu naik ke perahu? Tidak apa-apa, ibu kondekturnya jualan tiket kok, jadi kalo ngga punya tiket bilang aja ngga punya nanti akan disuruh beli.



Kami lagi-lagi ngga kebagian tempat duduk, dan sayangnya kali ini juga ngga kebagian berdiri dipinggir kaya pas berangkat, jadi kami tidak punya apa-apa untuk pegangan (?) dan tau kah kalian gimana si supir(?) perahu itu kalo ngerem? Udah kek angkot kalideres-serpong deh, main ngerem-ngerem aja gitu, lah kita yang berdiri di tengah tanpa pegangan apa-apa kan kewalahan yak, ampe ada yang ngetawain juga tuh gegara pas ngerem ngedadak badan kami maju semua sambil teriak “MAMA” keceneg banget lagi zzz.

Tapi gue happy pas naik perahu arah ke Sathorn ini? Do you know why? Ya biasa idup gue mah ngajauh-jauh dari bule bermata biru, OMG! Bule depan gue waktu itu emang ganteng banget. Udah nga ngerti lagi gantengnya bisa gitu. Mana pake kemeja putih trus lengannya digulung gitu sampe di bawah siku dipadukan dengan celana pendek warna tosca, can you imagine? Rambutnya blonde cepak a bit berjambul, tingginya sekitar 178 cm-an postur tubuhnya ngga kekar-kekar banget tapi seems sandarable, kulitnya putih pucat khas orang barat. Gue langsung berbisik ke teh Nida dan eon Uwi kalo itu bule kok ganteng banget, aku lemah, aku mau dia jadi jodoh aku. Nah loh? Gimana ceritanya deh? Bangun roh!!

Eon Uwi bilang, itu mah udah bagus dari bibitnya roh katanya, soalnya dia sama ibu-bapaknya dan dua-duanya emang good looking. Tapi berhubung di pemberhentian-pemberhentian sebelum kami banyak yang turun jadi kami pun maju, mencari tempat yang lebih manusiawi wkwk, si bule itu masih tetep di belakang, jadi posisinya sekarang kami yang berada di depan si bule, ketika kami sedang menikmati pemandangan, tiba-tiba supir yang mungkin udah sangat expert ini ngerem tanpa ada perhitungan terlebih dahulu, dan kebetulan atau memang ini takdir Tuhan, bukan! Bukan gue jatuh ke pelukan mas bule yang ganteng ataupun sebaliknya, tapiiiiii… ibu kondektur yang nabrak gue, ampe gue deg-degan gue kira gue didamprat ama ibu kondekturnya, taunya si ibunya baik, dia bilang sorry ke gue, ya walopun dia kondektur juga kalo supirnya ngerem mendadak gitu tetep aja hilang keseimbangan kan. Cuman ya gue sempet kaget dan deg-degan banget aja pas tiba-tiba badan si ibunya nabrak badan gue wkwk.

Sayangnya semua tidak berjalan sesuai dengan harapan gue, entah belum jodoh atau entah bule ganteng tadi memang bukan jodoh gue, kita berpisah di Sathorn. Dia dan keluarganya entah kemana, sedangkan gue pindah terminal ke bagian perahu Asiatique. Untuk menunggu perahu yang ke Asiatique ini lumayan lama, kurang lebih mungkin 30-45 menit. Perahunya gratis, karena memang disediakan dari pihak Asiatiquenya, Asiatique ini bukannya hanya sore sampai malam saja, dari jam 4 Sore sampai jam 2 dini hari. Kami sampai di terminal perahu Asiatiquenya sebelum pukul 4, makanya agak lama nunggunya. Oiya, saat gue lagi nunggu perahu ini, kami duduk di bangku panjang gitu kan, trus banyak turis-turis lain juga pada duduk, kebetulan ngga jauh dari tempat gue duduk, ada couple usianya mungkin 30 akhir an sedang duduk juga, dan gue ngga merhatiin banget-banget awalnya karena asik ngegosip dengan teteh-teteh. Pas banget gue nengok ke arah mereka, you know what are they  do? they are kissing, and im feel awkward HAHAHA. Ok! Jadi gue ini anaknya katrok banget, sering liat scene kissing di drama-drama but that was my first time to saw that scene in person. LOL! I mean gitu yah ternyata kissing tuh, emang keaya di film-film barat gitu ya. Jadi gue agak heboh gitu pas ngeliat mereka kissing, heboh nya ngga sampe malu-maluin sih, cuman bilang ke teteh-teteh kalo aku baru saja menyaksikan mereka ciuman ihihiw.

Sekitar pukul 4 lebih 10 menitan, perahu Asiatique pun datang dan langsung diserbu penumpang yang memang akan ke Asiatique. Kami? Seperti biasa kurang gerak cepat dan lagi-lagi berdiri di bagian belakang. Perjalanannya kurang lebih 10 menitan deh. Dan langsung nyampe Asiatique, ngga berenti berenti dulu.








Di Asiatique, kesan pertamanya adalah yang seperti eon Uwi bilang, ‘ih ini mah kaya PVJ yah, PVJ tapi Outdoor’, ya kurang lebih feelnya gitu sih. Yang pertama kami lakukan di sini adalah cari makan, karena ini perut udah ngga bisa lagi ditolerir. Kami makan di tempat makan mirip kalo di Bandung mah pujasera gitulah, ada beberapa penjual makanan dan minuman, dan banyak makanan halal. Gue beli apa yah namanya lupa, kaya Bihun trus ada sayurnya dikuahin gitu, tapi bihunnya sedikit jadi gue tambah nasi HAHA, untuk si bihunnya sendiri harganya 55 baht, nasi 5 baht jadi 60 baht. Teteh-teteh beli semacam lowmi gitu yang kuahnya kentel-kentel, harganya 55 baht juga. Minumnya gue Thai tea 25 baht, teh Nida smoothies Mango 30 baht dan eon Uwi lemon Tea 25 baht. FYI Cup orang-orang sana tuh asik banget, cup nya tinggi-tinggi, hampir semua seukuran cup-cup nya dum-dum bahkan kadang lebih tinggi dari cup dum-dum.



Setelah mensejahterakan perut, kami pun ke masjid, letaknya samping banget si pujasera tadi hanya dibatesin sama gang kecil doang. Selesai sholat kami sempet tidur-tidur an dulu ngelurusin kaki di dalem masjid, empuk banget sih karpet masjidnya jadi aku ngantuks wkwk. Dasar katrok lu roh!. Kemudian kami pun kembali masuk ke Asiatique, masuknya gratis ya teman-teman, di situ banyak banget penjual-penjual, baju, dompet, tas, bahkan makanan pun. Untuk harga baju dan tas kata teh Nida agak di atas night market, eh tapi kas kesitu lagi ada sale gitu, gue dapet kemeja sama celana masing-masing seharga 150 baht. Trus gue juga beli dompet emak-emak, harganya 10 baht, sama beli tas vavoom. Tas vavoom ini lumayan mahal, 200 baht, kata teh Nida dia udah punya nama. Tapi biasanya di sana tuh kalo kita belinya banyak suka dapet potongan harga lagi.








Tidak lupa poto-poto dan seperti biasa keliling-keliling ngajelas entah nyari apa. Pukul 8 kami pun kembali lelah, renta deh emang hahaha. Sehingga kami pun memutuskan untuk pulang saja. Kembali mengantri untuk perahu ke sathorn, tidak ada bule ganteng dan sudah tidak peduli karena lelah. Nyampe sathorn langsung ke stasiun saphan taksim untuk ke siam. Di Siam, kami berhenti dulu di daerah deket MBK, teh Nida belanja untuk toko. Sampe pukul 10 tuh kami di tempat itu. Trus gue galau, ada selimut Super Junior, kan berasa dipeluk oppa gitu yah, tapi nga gue beli karena mehong hahaha (dasar kere!).

Kami kembali naik kereta untuk kembali ke hostel, dan di jalan mau ke hostel karena perut lapar lagi, jadi belih potongan buah, teh Nida beli Jambu 25 baht, gue bli manga 30 baht, dan itu banyak  banget. Gue aja abis, eh kenyang maksudnya. Tapi teh Nida yang porsi makannya lebih manusiawi ngga abis, dan dimasukkin ke kulkas, karena emang porsinya tuh banyak banget.

Baiklah yorobun, itu pengalaman hari ke-2 gue selama mengunjungi tempat-tempat wisata di sana, semoga bisa membantu kalian yang akan berlibur ke Bangkok juga. Hope you guys enjoy it J. XO-XO.